Sebuah organisasi keakhiratan yang bertujuan untuk membina setiap anggotanya untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Kholiq serta untuk mengenal lebih jauh dan lebih dekat dengan Islam.
Senin, 20 Mei 2013
Surat Malcomn X dari Makkah : Saya Berjuang untuk Hidup Sebagai Muslim Sunni Sejati
KisahMuallaf.com – Rasa haru, persaudaraan, kemurahan hati dan tidak mementingkan diri sendiri yang dirasakan Malcolm X di kota Mekkah saat melaksanakan ibadah haji, membuka mata hatinya tentang semangat Islam yang sebenarnya. Dalam buku autobiografi yang ditulisnya bersama Alex Haley, Malcolm menulis, “Karena pencerahan spiritual dimana saya mendapatkan rahmat untuk mengalaminya setelah melaksanakan ibadah haji ke kota Mekkah, saya tidak lagi membiasakan melempar dakwaan kepada ras manapun. Sekarang, saya berjuang untuk hidup sebagai seorang Muslim Sunni sejati. Saya harus mengulangi bahwa saya bukan seorang rasis dan bukan pula seorang yang menganut prinsip rasisme. Saya nyatakan dengan ketulusan hati bahwa saya tidak berharap apa-apa kecuali kebebasan, keadilan dan persamaan, kehidupan, kemerdekaan serta kebahagiaan untuk semua orang,”
Dalam buku Autobiography of Malcolm X, Malcolm X atau nama Islamnya Malik al-Shabazz mengungkapkan kesan-kesannya melaksanakan ibadah haji di tanah suci dalam surat yang ditujukan ke asistennya di Harlem. Surat itu ia kirim dari Mekkah pada bulan April 1964. Berikut isi suratnya:
Saya tidak pernah menyaksikan keramahtamahan yang begitu tulus dan semangat kebersamaan yang begitu besar, seperti yang dilakukan oleh umat manusia dari berbagai warna kulit dan ras di kota suci ini, rumah dari Ibrahim, Muhammad dan nabi-nabi lainnya yang disebut dalam kita suci Al-Quran. Dalam beberapa minggu yang saya lewati, saya benar-benar kehilangan kata-kata dan terpesona dengan keagungan yang saya saksikan di sekitar saya yang dilakukan oleh umat manusia dari berbagai bangsa. Saya beruntung bisa berkunjung ke kota suci Mekkah; Saya sudah melakukan tawaf keliling Ka’bah 7 putaran, dipimpin oleh seorang Mutawwaf (pembimbing) muda bernama Muhammad; Saya minum air dari sumur air Zamzam; Saya lari 7 kali bolak-balik dari bukit Safa ke bukit Marwa; Saya berdoa di kota tua Mina dan Saya berdoa di pegungungan Arafah. Di sana ada puluhan ribu jemaah haji dari seluruh dunia. Mereka berasal dari berbagai warna kulit dari yang bermata biru, pirang sampai yang berkilit hitam dari Afrika. Namun mereka semua melakukan ritual yang sama, menunjukkan semangat persatuan dan persaudaraan yang dari pengalaman saya di Amerika telah membuat saya percaya bahwa hal semacam ini tidak akan pernah terjadi antara kulit putih dan non kulit putih. Amerika perlu memahami Islam, karena Islam adalah agama yang menghapuskan masalah rasa di kalangan pemeluknya. Dari seluruh perjalanan yang pernah saya lakukan ke dunia Islam, saya bertemu, bicara dan bahkan makan bersama dengan orang-orang yang di Amerika akan dianggap sebagai orang kulit putih-namun sikap sebagai orang kulit putih telah dihilangkan dari pikiran mereka oleh agama Islam.
Saya tidak pernah menyaksikan sebelumnya, ketulusan dan rasa persaudaraan sejati yang dilakukan oleh orang-orang dari berbagai warna kulit bersama-sama, mereka mengabaikan warna masing-masing. Kamu mungkin akan sangat terkejut dengan kata-kata saya ini. Tapi dalam pelaksanaan ibadah haji, apa yang saya lihat dan saya alami, memaksa saya untuk menyusun kembali banyak dari pola pikir yang saya anut sebelumnya dan membuang sejumlah kesimpulan yang buat di masa lalu. Ini tidak terlalu sulit buat saya. Disamping pendirian saya yang kuat, saya selalu menjadi orang yang berusaha menghadapi kenyataan dan menerima kenyataan hidup sebagai pengalaman baru dan pengetahuan baru yang terbentang. Saya selalumenjaga untuk tetap terbuka, yang merupakan hal pentinguntuk bersikap fleksibel agar berjalan bersisian dengan setiap bentuk pencarian untuk mendapatkan kebenaran.
Selama 7 hari yang saya lewati di sini, di negara Islam ini, saya makan bersama dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama dan tidur di karpet yang sama-ketika berdoa pada Tuhan yang sama-dengan saudara-saudara sesama Muslim, yang matanya lebih biru dari yang biru, yang rambutnya lebih pirang dari yang piran dan kulitnya lebih putih dari yang putih. Dan dalam perkataan dan perbuatan Muslim berkulit putih itu, saya merasakan ketulusan yang sama seperti yang saya rasakan ketika berada di antara Muslim berkulit hitam yang berasal dari Nigeria, Sudan dan Ghana. Kami benar-benar menjadi satu saudara-karena keimanan mereka pada satu tuhan telah menghapus pemikiran bahwa mereka orang kulit putih, baik dari sikap maupun tingkah laku mereka. Apa yang saya lihat dari pengalaman ini, bahwa mungkin jika orang kulit putih Amerika bisa menerima ke-Esa-an Tuhan, maka mungkin mereka juga bisa menerima bahwa semua umat manusia adalah sama-dan berhenti melakukan tindakan, menghalangi dan membahayakan orang lain hanya karena ‘perbedaan’ warna kulit. Dengan wabah rasisme di Amerika yang sudah seperi kanker yang tidak bisa dicegah, kemudian apa yang disebut hati ‘Orang Kristen’ kulit putih Amerikaselayaknya lebih bisa menerima sebuah solusi yang sudah terbukti untuk mengatasi masalah-masalah destruktif itu. Mungkin ini sudah saatnya melindung Amerika dari bencana yang makin dekat-kerusakan yang sama yang dialami negara Jerman akibat rasisme yang pada akhirnya menghancurkan bangsa Jerman sendiri. Setiap jam, di sini, di kota suci membuat saya belajar untuk memiliki wawasan spiritual yang lebih besar terhadap apa yang terjadi di AS antara orang kulit putih dan kulit hitam. Orang Negro Amerika tidak bisa disalahkan atas rasa dendam rasial mereka-mereka hanya bereaksi atas rasisme yang dilakukan warga kulit putih Amerika secara sadar selama hampir empat ratus tahun. Tapi seiring dengan rasisme yang mengarahkan Amerika ke jalan bunuh diri, saya tetap yakin, di akademi-akademi dan universitas-universitas, akan terlihat tulisan-tulisan tangan di dinding-dinding dan banyak di antara mereka yang akan berubah ke jalan spiritual yang sebenarnya-satu-satunya jalan yang menjadikan Amerika untuk terhindar dari bencana akibat tindakan rasisme yang tidak bisa dihindari akan menimbulkan bencana itu.
Saya tidak pernah merasa sedemikian terhormat. Saya tidak pernah merasa begitu rendah hati dan merasa tidak berharga. Siapa yang akan percaya akan rahmat yang telah dilimpahkan pada seorang Negro Amerika? Beberapa malam yang lalu, seorang laki-laki yang di Amerika akan disebut kulit putih, seorang diplomat PBB, seorang duta besar, seorang penasehat raja, memberikan ruangan suite hotelnya pada saya, tempat tidurnya. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya, bahka bermimpi bahwa saya akan menerima kehormatan semacam itu-kehormatan yang di Amerika akan dipersembahkan hanya untuk seorang Raja, bukan seorang Negro.
Segala puji bagi Allah, seru sekalian alam.
Hormat Saya,
Al-Hajj, Malik al-Shabazz (Malcolm X)
(Sumber: IslamOnline) via : Eramuslim
Dalam buku Autobiography of Malcolm X, Malcolm X atau nama Islamnya Malik al-Shabazz mengungkapkan kesan-kesannya melaksanakan ibadah haji di tanah suci dalam surat yang ditujukan ke asistennya di Harlem. Surat itu ia kirim dari Mekkah pada bulan April 1964. Berikut isi suratnya:
Hormat Saya,
Al-Hajj, Malik al-Shabazz (Malcolm X)
Angela Collins, Temukan Kebenaran Dalam Islam
KisahMuallaf.com – Benci dan rindu. Begitulah sikap publik di Amerika Serikat (AS) terhadap Islam setelah terjadinya peristiwa 11 September 2001.
Kebencian dan ketakutan terhadap agama Islam melanda sebagian masyarakat di negeri Adidaya itu. Mereka menuding Islam sebagai agama teroris yang telah melahirkan orang-orang jahat dan berhati pembunuh.
Berbeda dengan sebagian masyarakat yang dilanda Islamofobia, Angela Collins, seorang aktris di AS, justru tertarik untuk mempelajari Islam setelah peristiwa runtuhnya gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York itu.
Tak perlu lama bagi Angela untuk meyakini kebenaran ajaran Islam. Dua bulan setelah peristiwa 9/11, ia mengucap dua kalimat syahadat.
”Islam adalah satu-satunya agama yang menyuruh kita melakukan penyerahan total kepada Sang Pencipta kita, Pencipta semua orang dan segala sesuatu,” ujar bintang televisi yang membintangi ”Laguna Beach’‘ itu.
”Islam adalah satu-satunya agama yang menyuruh kita melakukan penyerahan total kepada Sang Pencipta kita, Pencipta semua orang dan segala sesuatu,” ujar bintang televisi yang membintangi ”Laguna Beach’‘ itu.
Angela pun haqqul yaqin, Al-Quran adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ”Ini (Al-Quran) hanya bisa datang dari pencipta saya.”
Angela dibesarkan dalam keluarga Katolik tradisional. Setiap pekan ia pergi ke gereja bersama keluarganya, membaca dan memahami kitab sucinya, dan berdoa kepada Yesus.
Angela dibesarkan dalam keluarga Katolik tradisional. Setiap pekan ia pergi ke gereja bersama keluarganya, membaca dan memahami kitab sucinya, dan berdoa kepada Yesus.
Secara fisik, Angela adalah seorang gadis California tulen yang diberkahi kesempurnaan fisik. Matanya biru, rambutnya pirang, dan bentuk tubuh yang menandakannya sebagai gadis pantai California.
Sebagai bintang televisi, Angela cukup populer. Tak sedikit anak gadis yang mencoba meniru atau ingin menjadi seperti dirinya. Angela adalah pribadi yang unik. Ia mulai mencari jati dirinya ketika berusia 14 tahun.
Saat itu, ia sudah mulai menolak konsep Trinitas. Sepanjang hidupnya, ia berusaha untuk mencari dan memahami segala sesuatu.
Namun ketika sampai pada konsep ketuhanan, Angela benar-benar bingung. ”Terutama mengenai mengapa Tuhan datang sebagai manusia dan membiarkan dirinya mati demi dosa-dosa umatnya,” ungkapnya dalam laman turn to Islam.
Jika memikirkan hal itu, hatinya selalu gundah. Ada rasa ketidakyakinan. Angela pun memutuskan untuk membicarakan masalah-masalah seperti itu dengan pastornya.
Angela pun sering bertanya, ”Mengapa agamanya begitu kompleks.” Ketika beranjak dewasa, ia memutuskan untuk membuatnya lebih sederhana. Hanya ada satu, yaitu Sang Pencipta. Ya, hanya itu.
Menurutnya, tak ada penjelasan lain yang masuk akal dari itu. Dan, setiap orang tidak bisa mengendalikan peristiwa yang terjadi pada diri masing-masing, termasuk dia. ”Ada yang mengendalikan itu semua, Dialah Pencipta (Allah Subhanahu Wa Ta’ala),”ujarnya.
Hingga akhirnya, Angela mengenal Islam. ”Saya mencari kebenaran dan saya menemukannya di dalam Islam. Kini saya memiliki keyakinan itu dan saya menyukainya,” paparnya.
Ia memandang Islam sebagai agama yang datang untuk memperbaiki kesalahan manusia. Menurut Angela, Islam adalah agama sederhana. ”Allah adalah Allah. Dia menciptakan manusia dan manusia menyembah Allah. Itu saja,” ucapnya.
Tuhan, kata dia, mengutus Musa, Yesus (Isa), dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menyampaikan pesan-Nya dan membimbing manusia melalui firman-Nya.
”Dalam Islam, Yesus adalah satu-satunya nabi yang tidak mati, dan karena itulah ia menjadi utusan yang akan datang kembali pada Hari Penghakiman,” papar Angela.
Ia berpendapat, agama adalah pedoman hidup bagi setiap orang untuk berperilaku baik melalui spiritualitas. Esensi Allah Subhanahu Wa Ta’ala (satu-satunya Tuhan) telah membuka hatinya.
Islam memberinya arah dan kini Angela hidup dengan panduan Al-Quran yang dipinjamkan oleh Penciptanya untuk kebahagiaan di bumi dan di akhirat nanti.
Menurutnya, Islam tidak memberikan jalan ke surga hanya karena seseorang mengatakan dia adalah seorang Muslim.
Ia menilai, seseorang juga tidak mungkin langsung masuk surga hanya karena mempercayai AllahSubhanahu Wa Ta’ala bersifat monoteis.
”Anda pergi ke surga berdasarkan niat dan tindakan Anda untuk mengikuti pesan yang diajarkan kepada kita oleh para nabi. Dan, semua itu dapat dikonfirmasi dalam kitab yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan (Al-Quran).”
Pilihan Angela untuk menjadi seorang Muslimah yang dinilai sebagai agama kontroversial, membuat keluarga dan teman-temannya heran.
”Saya melihat Muslim secara umum di mata masyarakat Amerika Serikat. Namun mereka harus tahu, itu bukanlah Muslim yang sebenarnya. Muslim tidak bertindak seperti apa yang mereka pikirkan,”Angela mengemukakan pendapatnya dalam wawancara dengan NBC.
”Anda pergi ke surga berdasarkan niat dan tindakan Anda untuk mengikuti pesan yang diajarkan kepada kita oleh para nabi. Dan, semua itu dapat dikonfirmasi dalam kitab yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan (Al-Quran).”
Pilihan Angela untuk menjadi seorang Muslimah yang dinilai sebagai agama kontroversial, membuat keluarga dan teman-temannya heran.
”Saya melihat Muslim secara umum di mata masyarakat Amerika Serikat. Namun mereka harus tahu, itu bukanlah Muslim yang sebenarnya. Muslim tidak bertindak seperti apa yang mereka pikirkan,”Angela mengemukakan pendapatnya dalam wawancara dengan NBC.
Setelah menjadi bagian dari Islam, ia dapat mematuhi ajaran di dalam Al-Quran dan Hadis. Baginya, Islam adalah agama yang multibudaya dan merupakan sistem yang dapat diadopsi dalam lingkungan apa pun di setiap titik waktu.
Kini, Angela telah menjadi seorang Muslimah. Tidak terlihat lagi gerai rambut pirangnya. Rambutnya yang indah itu telah ditutup oleh hijab (jilbab) yang membuatnya jauh lebih memesona dari penampilan sebelumnya.
Awalnya, tidak mudah untuk memakai hijab. Menurut dia, orang-orang di sekitarnya banyak berpikir bahwa apa yang dipakainya bukanlah sebuah aksesori keagamaan, tetapi justru sebuah mode pakaian terbaru. Namun, dengan niat yang tulus, Angela menunaikan kewajibannya sebagai seorang Muslimah; berjilbab.
Ia pun memutuskan untuk meninggalkan dunia keartisan yang gemerlap dan glamor. Kini, Angela berkhidmat di dunia pendidikan, sebagai direktur di Islamic School. Angela mencoba untuk memberi kontribusi bagi pengembangan pendidikan Islam di Amerika Serikat.
Source : Republika
Angela Collins, Temukan Kebenaran Dalam Islam
KisahMuallaf.com – Benci dan rindu. Begitulah sikap publik di Amerika Serikat (AS) terhadap Islam setelah terjadinya peristiwa 11 September 2001.
Kebencian dan ketakutan terhadap agama Islam melanda sebagian masyarakat di negeri Adidaya itu. Mereka menuding Islam sebagai agama teroris yang telah melahirkan orang-orang jahat dan berhati pembunuh.
Berbeda dengan sebagian masyarakat yang dilanda Islamofobia, Angela Collins, seorang aktris di AS, justru tertarik untuk mempelajari Islam setelah peristiwa runtuhnya gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York itu.
Tak perlu lama bagi Angela untuk meyakini kebenaran ajaran Islam. Dua bulan setelah peristiwa 9/11, ia mengucap dua kalimat syahadat.
”Islam adalah satu-satunya agama yang menyuruh kita melakukan penyerahan total kepada Sang Pencipta kita, Pencipta semua orang dan segala sesuatu,” ujar bintang televisi yang membintangi ”Laguna Beach’‘ itu.
”Islam adalah satu-satunya agama yang menyuruh kita melakukan penyerahan total kepada Sang Pencipta kita, Pencipta semua orang dan segala sesuatu,” ujar bintang televisi yang membintangi ”Laguna Beach’‘ itu.
Angela pun haqqul yaqin, Al-Quran adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ”Ini (Al-Quran) hanya bisa datang dari pencipta saya.”
Angela dibesarkan dalam keluarga Katolik tradisional. Setiap pekan ia pergi ke gereja bersama keluarganya, membaca dan memahami kitab sucinya, dan berdoa kepada Yesus.
Angela dibesarkan dalam keluarga Katolik tradisional. Setiap pekan ia pergi ke gereja bersama keluarganya, membaca dan memahami kitab sucinya, dan berdoa kepada Yesus.
Secara fisik, Angela adalah seorang gadis California tulen yang diberkahi kesempurnaan fisik. Matanya biru, rambutnya pirang, dan bentuk tubuh yang menandakannya sebagai gadis pantai California.
Sebagai bintang televisi, Angela cukup populer. Tak sedikit anak gadis yang mencoba meniru atau ingin menjadi seperti dirinya. Angela adalah pribadi yang unik. Ia mulai mencari jati dirinya ketika berusia 14 tahun.
Saat itu, ia sudah mulai menolak konsep Trinitas. Sepanjang hidupnya, ia berusaha untuk mencari dan memahami segala sesuatu.
Namun ketika sampai pada konsep ketuhanan, Angela benar-benar bingung. ”Terutama mengenai mengapa Tuhan datang sebagai manusia dan membiarkan dirinya mati demi dosa-dosa umatnya,” ungkapnya dalam laman turn to Islam.
Jika memikirkan hal itu, hatinya selalu gundah. Ada rasa ketidakyakinan. Angela pun memutuskan untuk membicarakan masalah-masalah seperti itu dengan pastornya.
Angela pun sering bertanya, ”Mengapa agamanya begitu kompleks.” Ketika beranjak dewasa, ia memutuskan untuk membuatnya lebih sederhana. Hanya ada satu, yaitu Sang Pencipta. Ya, hanya itu.
Menurutnya, tak ada penjelasan lain yang masuk akal dari itu. Dan, setiap orang tidak bisa mengendalikan peristiwa yang terjadi pada diri masing-masing, termasuk dia. ”Ada yang mengendalikan itu semua, Dialah Pencipta (Allah Subhanahu Wa Ta’ala),”ujarnya.
Hingga akhirnya, Angela mengenal Islam. ”Saya mencari kebenaran dan saya menemukannya di dalam Islam. Kini saya memiliki keyakinan itu dan saya menyukainya,” paparnya.
Ia memandang Islam sebagai agama yang datang untuk memperbaiki kesalahan manusia. Menurut Angela, Islam adalah agama sederhana. ”Allah adalah Allah. Dia menciptakan manusia dan manusia menyembah Allah. Itu saja,” ucapnya.
Tuhan, kata dia, mengutus Musa, Yesus (Isa), dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menyampaikan pesan-Nya dan membimbing manusia melalui firman-Nya.
”Dalam Islam, Yesus adalah satu-satunya nabi yang tidak mati, dan karena itulah ia menjadi utusan yang akan datang kembali pada Hari Penghakiman,” papar Angela.
Ia berpendapat, agama adalah pedoman hidup bagi setiap orang untuk berperilaku baik melalui spiritualitas. Esensi Allah Subhanahu Wa Ta’ala (satu-satunya Tuhan) telah membuka hatinya.
Islam memberinya arah dan kini Angela hidup dengan panduan Al-Quran yang dipinjamkan oleh Penciptanya untuk kebahagiaan di bumi dan di akhirat nanti.
Menurutnya, Islam tidak memberikan jalan ke surga hanya karena seseorang mengatakan dia adalah seorang Muslim.
Ia menilai, seseorang juga tidak mungkin langsung masuk surga hanya karena mempercayai AllahSubhanahu Wa Ta’ala bersifat monoteis.
”Anda pergi ke surga berdasarkan niat dan tindakan Anda untuk mengikuti pesan yang diajarkan kepada kita oleh para nabi. Dan, semua itu dapat dikonfirmasi dalam kitab yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan (Al-Quran).”
Pilihan Angela untuk menjadi seorang Muslimah yang dinilai sebagai agama kontroversial, membuat keluarga dan teman-temannya heran.
”Saya melihat Muslim secara umum di mata masyarakat Amerika Serikat. Namun mereka harus tahu, itu bukanlah Muslim yang sebenarnya. Muslim tidak bertindak seperti apa yang mereka pikirkan,”Angela mengemukakan pendapatnya dalam wawancara dengan NBC.
”Anda pergi ke surga berdasarkan niat dan tindakan Anda untuk mengikuti pesan yang diajarkan kepada kita oleh para nabi. Dan, semua itu dapat dikonfirmasi dalam kitab yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan (Al-Quran).”
Pilihan Angela untuk menjadi seorang Muslimah yang dinilai sebagai agama kontroversial, membuat keluarga dan teman-temannya heran.
”Saya melihat Muslim secara umum di mata masyarakat Amerika Serikat. Namun mereka harus tahu, itu bukanlah Muslim yang sebenarnya. Muslim tidak bertindak seperti apa yang mereka pikirkan,”Angela mengemukakan pendapatnya dalam wawancara dengan NBC.
Setelah menjadi bagian dari Islam, ia dapat mematuhi ajaran di dalam Al-Quran dan Hadis. Baginya, Islam adalah agama yang multibudaya dan merupakan sistem yang dapat diadopsi dalam lingkungan apa pun di setiap titik waktu.
Kini, Angela telah menjadi seorang Muslimah. Tidak terlihat lagi gerai rambut pirangnya. Rambutnya yang indah itu telah ditutup oleh hijab (jilbab) yang membuatnya jauh lebih memesona dari penampilan sebelumnya.
Awalnya, tidak mudah untuk memakai hijab. Menurut dia, orang-orang di sekitarnya banyak berpikir bahwa apa yang dipakainya bukanlah sebuah aksesori keagamaan, tetapi justru sebuah mode pakaian terbaru. Namun, dengan niat yang tulus, Angela menunaikan kewajibannya sebagai seorang Muslimah; berjilbab.
Ia pun memutuskan untuk meninggalkan dunia keartisan yang gemerlap dan glamor. Kini, Angela berkhidmat di dunia pendidikan, sebagai direktur di Islamic School. Angela mencoba untuk memberi kontribusi bagi pengembangan pendidikan Islam di Amerika Serikat.
Source : Republika
Langganan:
Postingan (Atom)